Berdasarkan hasil survey konsumsi makanan secara kualitatif dengan metode FFQ (Food Frequency Quesionnaire) yang dilakukan di tingkat rumah tangga di wilayah Gunung Kidul, Kulon Progo dan Wonogiri diperoleh hasil bahwa konsumsi asupan real keluarga terhadap angka kecukupan zat gizi masih sangat kurang. Asupan zat gizi dianggap masih kurang, hal ini dikarenakan jumlah ketersediaan makanan masih kurang dari angka kecukupan yang dibutuhkan oleh tubuh. Pada umumnya dalam kehidupan sehari-hari semua keluarga lebih banyak mengkonsumsi makanan mengandung karbohidrat seperti nasi, singkong, umbi-umbian, jagung, pisang dan mie tanpa diimbangi dengan zat gizi lainnya. Zat gizi protein diperoleh dari mengkonsumsi tahu/tempe dan telur. Selain itu, pola makan keluarga yang kurang seimbang dimana umumnya keluarga mengkonsumsi dengan pola menu “yang penting ada nasi, tahu atau tempe dan sayur” sudah dianggap cukup ditambah jumlah makanan yang dikonsumsi yang tidak seimbang. Dimana persentase jumlah nasi yang dikonsumsi lebih banyak dari kecukupan dibandingkan makanan pendampingnya (tahu/tempe dan sayur). Ditambah kebiasaan setelah makan minum air teh manis yang bisa menghambat penyerapan zat gizi di dalam tubuh, terutama Fe. Dengan pengetahuan gizi yang benar, maka orang akan tahu dan berupaya untuk mengatur pola makannya sedemikian rupa (tidak berkekurangan dan tidak berlebihan), dengan memanfaatkan bahan pangan lokal.
Adanya kultur atau tradisi bahwa makanan seperti daging ayam dan sapi merupakan makanan istimewa dimana hanya dikonsumsi pada hari-hari khusus atau bila ada pesta juga sangat berpengaruh. Selain itu, ada prioritas kebutuhan di dalam kelurga, dimana pangan tidak dijadikan prioritas utama. Sebagai contoh kasus ada beberapa keluarga yang dianggap memiliki daya beli tinggi dapat membeli semua jenis makanan, tapi lebih mementingkan kebutuhan sandang atau papan daripada pangan yang jelas-jelas lebih berdampak penting bagi masa depan anak. Penyebab masalah keseimbangan gizi yang lain adalah gizi yang dikonsumsi masih kurang dikarenakan pengetahuan keluarga tentang kandungan zat gizi dalam suatu makanan masih sangat kurang. Pada umumnya pengetahuan mereka hanya sebatas zat gizi makro yaitu karbohidrat, protein dan lemak akan tetapi itupun masih banyak terjadi kekeliruan. Contoh kasus misalnya pisang umumnya dianggap banyak mengandung vitamin atau mineral. Padahal walaupun pisang bukan termasuk makananan pokok melainkan kategori buah-buahan tetapi kandungan zat gizi tertingginya adalah sama yaitu karbohidrat.
Pengetahuan keluarga tentang cara pengelolaan makanan yang baik juga masih kurang. Contoh kasus yang muncul antara lain adalah banyaknya keluarga yang mencuci sayuran setelah sayuran tersebut dipotong-potong terlebih dahulu. Padahal cara tersebut bisa menyebabkan zat gizi dalam sayuran hilang. Kasus lainnya, ketika memasak umumnya menambahkan garam diberikan pada saat masakan masih di atas kompor. Padahal cara tersebut dapat menyebabkan zat yodium dalam garam cepat menguap. Hal ini juga membuktikan hasil survey mengenai keseimbangan gizi ini masih bermasalah sehingga dapat disimpulkan bahwa asupan yodium dan zat mikro lainnya masih kurang dibandingkan dengan angka kecukupannya.
Variasi menu dalam keluarga juga masih dianggap kurang. Hal ini menyebabkan anak lebih suka jajan dibandingkan makan dari masakan rumah. Hal ini disebabkan karena anak merasa bosan dengan makanan lokal. Makanan atau snack lokal biasanya dibuat dari satu jenis bahan makanan yang sama. Makanan lokal dianggap tidak gaul karena rasa dan bentuknya tidak menarik. Anak lebih senang mendapatkan uang saku daripada harus membawa bekal makanan dari rumah. Padahal di sekolah konsumsi anak tidak dapat dikontrol oleh keluarga. Anak lebih senang membeli makanan dengan warna yang menarik tanpa memperdulikan atau memperhatikan zat warna tersebut berasal. Kebanyakan pedagang terutama di sekolah-sekolah untuk mendapatkan keuntungan yang besar, mereka menggunakan zat pewarna untuk tekstil karena lebih murah dibandingkan zat pewarna makanan. Selain itu, anak lebih senang mengkonsumsi makanan dengan pengemas yang bergambar menarik, padahal makanan tersebut kemungkinan banyak mengandung zat pengawet dan MSG (Monosodium glutamate). Kenyataan ini membuktikan anak jarang sarapan pagi di rumah. Mereka mengandalkan jajan di sekolah yang kondisi kemanan dan kesehatannya belum terjamin untuk kebutuhan gizi dan energi selama mereka beraktivitas
Risiko
Kira-kira dampak apa yang akan terjadi apabila jumlah konsumsi makanan yang kurang dan asupan zat gizi yang tidak seimbang terus terjadi seperti pada temuan di atas? Berikut ini beberapa analisa risiko yang bisa terjadi:
1. Menurunnya kemampuan belajar/berfikir
Asupan zat gizi anak-anak sekolah masih sangat memprihatinkan. Padahal asupan gizi yang baik setiap harinya dibutuhkan supaya memiliki kemampuan intelektual yang baik sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang unggul. Kurang gizi pada usia muda dapat berpengaruh terhadap perkembangan mental dan kemampuan berfikir. Karena organ otak mencapai bentuk maksimal pada usia dua tahun. Apabila kekurangan gizi dapat berakibat terganggunya fungsi otak secara permanent. Oleh karena itu, Kemampuan anak belajar atau prestasi anak di sekolah menjadi menurun. Anak usia sekolah merupakan investasi bangsa, karena mereka adalah generasi penerus bangsa. Sehingga kewajiban kita sebagai orang tua harus selalu memperhatikan kualitas dan kuantitas asupan gizi anak. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan anak-anak saat ini.
2. Menurunnya pertumbuhan, kemampuan fisik dan ketahanan tubuh rentan
Pada umumnya banyak keluarga yang masih tidak peduli terhadap asupan kandungan gizi yang dikonsumsi oleh anak-anaknya. Mereka lebih banyak peduli bahwa “yang penting anak kenyang”, tanpa memperhatikan keseimbangan gizinya. Padahal akibat dari asupan gizi yang kurang diantaranya daya tahan tubuh terhadap tekanan atau stress menjadi menurun. Sistem imunitas dan antibodi berkurang, sehingga mudah terserang infeksi seperti pilek, batuk, dan diare. Pada anak-anak hal ini dapat bisa berbahaya dan bahkan bisa membawa kematian. Tumbuh kembangnya anak usia sekolah yang optimal juga tergantung pemberian nutrisi dengan kualitas dan kuantitas yang baik dan benar. Pada masa tumbuh kembang tersebut pemberian nutrisi atau asupan makanan pada anak-anak tidak selalu dapat dilaksanakan dengan sempurna sehingga dampak masalah gizi bagi anak sekolah dapat berupa gangguan pertumbuhan dan kesegaran jasmani yang rendah. Oleh karena itu, pertumbuhan dan perkembangan anak harus diperhatikan sedini mungkin, agar terhindar dari ancaman berbagai penyakit yang bisa berujung pada kematian. Salah satu contoh yang bisa diambil adalah kasus-kasus di daerah endemik Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), akibatnya pertumbuhan penduduknya sangat terhambat seperti cebol atau kretinisme.
3. Ancaman malnutrisi dan penyakit
Kurangnya asupan zat gizi yang seimbang dalam jangka panjang dapat menyebabkan ancaman malnutrisi bahkan dimulai pada saat kehamilan atau dalam kandungan ibu. Malnutrisi ini bisa menyebabkan kematian apabila tidak ditanggani sedini mungkin. Selain malnutrisi, ada ancaman penyakit lain yang disebabkan makanan atau jajanan anak sekolah. Jajanan yang mengadung zat kimia dan bersifat karsinogenik, seperti zat pengawet (formalin, borax), pewarna sintetik, perasa (MSG) dapat terakumulasi pada tubuh yang dalam jangka panjang menyebabkan penyakit kanker dan tumor. Apabila anak mengkonsumsi asupan gizi yang tidak seimbang, maka ancamannya berupa penyakit seperti anemia defisiensi zat besi, kekurangan vitamin A (KVA), bahkan gangguan akibat kekurangan yodium di suatu komunitas terutama daerah endemik.
Alternatif penyelesaian
Ada beberapa pikiran alternatif untuk perbaikan ke depan, sehingga tercipta manusia atau generasi bangsa yang sehat baik jasmani maupun rohani, diantaranya:
1. Optimalkan potensi lokal
Meskipun berbagai potensi bahan pangan lokal di Indonesia melimpah, namun pengolahan terhadap potensi-potensi tersebut masih kurang. Selain itu, berbagai potensi tersebut belum pula dikembangkan menjadi makanan yang bervariasi. Ada beberapa hal penyebab potensi lokal belum dapat diolah dan dikembangkan secara optimal, antara lain masih kurangnya pengetahuan, teknologi, dan keterampilan yang dimiliki masyarakat. Biasanya mereka ingin praktis dengan langsung mengolah pangan lokal tanpa upaya memberikan nilai lebih pada bahan berpotensi tersebut. Salah satu upaya dalam pengembangan konsumsi pangan dilaksanakan melalui pengembangan pangan lokal, karena pangan lokal merupakan pangan yang sudah dikenal, mudah diperoleh, jenisnya beragam. Dalam hal ini pengembangan pangan lokal diharapkan dapat meningkatkan konsumsi pangan yang beragam di tingkat rumah tangga. Ada dua jenis potensi lokal, yaitu potensi fisikal seperti kekayaan laut, hutan, alam secara keseluruhan, dan potensi kultural, yakni wujud kretivitas sebagai respon akal budi atas potensi fisikal yang ada. Berbagai bahan pangan yang berwujud umbi-umbian yang belum dimanfaatkan untuk diolah secara maksimal menjadi aneka makanan. Padahal apabila dikembangkan bahan pangan seperti singkong, ketela rambat, sukun, jagung dan sebagainya itu dapat diolah sebagai bahan makanan ringan dan makanan pokok. Selain itu talas, singkong dan umbi-umbian lokal lainnya adalah beberapa contoh bahan baku kudapan yang mudah diperoleh. Tanaman tersebut masih banyak dijumpai karena memiliki kemampuan menyesuaikan diri di lingkungan di Indonesia.
Umbi-umbian tersebut memiliki kandungan gizi yang tinggi. Misalnya saja ”suweg” memiliki kandungan kalsium yang baik bagi pertumbuhan anak, dapat menguatkan tulang dan gigi bagi anak maupun orang dewasa. ”Kimpul”, selain mengadung kalsium, juga mengadung kalori yang digunakan tubuh untuk beraktivitas. Sedangkan ubi memiliki kandungan fosfor tinggi yang digunakan tubuh untuk proses metabolisme. Umbi lainnya, seperti ”gadung” mengadung vitamin C cukup tinggi dan bagus untuk meningkatkan kekebalan tubuh. Oleh karena itu sebagai pemilik potensi yang sangat besar, potensi lokal yang ada secara menyeluruh harus disikapi dengan kearifan lokal, dimana kekayaan kultural bangsa seyogyanya dipertahankan melalui adanya pendidikan pangan dan pengembangan potensi lokal.
2. Prioritaskan penyediaan makanan (tabungan gizi)
Adanya prioritas utama untuk kebutuhan pangan di dalam keluarga merupakan cara agar kecukupan gizi setiap kelurga terpenuhi. Dimana seharusnya keluarga selalu menganggarkan belanjanya untuk membeli bahan makanan sehari-hari yang beraneka ragam guna memenuhi kebutuhan gizi keluarga. Kekurangan zat gizi pada jenis makanan yang satu akan dilengkapi oleh keunggulan susunan zat gizi jenis makanan lain, sehingga diperoleh masukan zat gizi seimbang. Istilah lainnya yaitu tabungan gizi. Pada hal seperti ini adalah bergantung bagaimana mengatur kecukupan sumberdaya dalam keluarga dan variasi yang ingin disajikan. Jika berhasil maka masalah gizi keluarga akan terselesaikan dengan baik.
3. Food/nutrition education di komunitas dan sekolah
Langkah konkret untuk mengatasi masalah gizi adalah denganbekerja bersama di semua level untuk meningkatkan pengetahuan yaitu dengan adanya nutrition education. Hal seperti ini tentu saja harus didukung semua pihak yang ada. Dengan menyelenggarakan kegiatan pendidikan nutrisi maka pengetahuan akan meningkat dan bila pengetahuan meningkat maka masalah gizi bisa dengan mudah langkah demi langkah teratasi. Sedangkan upaya mengadakan pendidikan nutrisi ini bisa dilakukan dengan berbagai cara baik itu pendidikan di sekolah, melalui UKS, pendidikan di masyarakat dan keluarga atau dalam kegiatan yang lainnya.
DIarsipkan di bawah: Artikel | Ditandai: alternatif, anak sekolah, ancaman penyakit, Artikel, asupan zat gizi, ichamiao, keluarga, komunitas, masyarakat, pangan lokal, potensi lokal, risa yulia wulansari, risiko, sekolah, tabungan gizi, usaha kesehatan sekolah (uks), zat gizi
[...] Peraih Nominasi untuk Academy Award 2008 Film Berbahasa… Saved by nicoman on Thu 09-10-2008 Waspada : Fakta Bahwa Asupan Zat Gizi di Masyarakat Masih Kurang Saved by yeahwhynot on Wed 08-10-2008 37 fakta tentang topo… Saved by mediasoftperu on Mon [...]
hi
Hi Almi…
Salam kenal
kesehatan itu mahal harganya, untuk itu selalu menjaga kesehatan yaa