Pentingkah Pendidikan Nutrisi di Sekolah, di Rumah atau di Masyarakat

Asupan gizi anak-anak sekolah dasar di beberapa wilayah Indonesia sangat memprihatinkan. Padahal, setiap harinya dibutuhkan asupan gizi yang baik supaya anak-anak ini memiliki pertumbuhan kesehatan dan perkembangan intelektual yang baik, sehingga menjadi generasi penerus bangsa yang unggul. Kegiatan anak di sekolah menyita waktu terbesar dari aktivitas keseluruhan sehari-hari, termasuk aktivitas makan. Makanan jajanan di sekolah ternyata sangat berisiko menggangu kesehatan baik jangka pendek atau jangka panjang. Pada umumnya perilaku makan yang sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan di kantin atau warung di sekitar sekolah dan kebiasaan makan fast food. Selain itu pengetahuan anak dan orang tua mengenai makanan yang sehat bebas dari Bahan Tambahan Makanan (BTM) berupa pewarna, pengawet, pemanis dan penyedap masih kurang. Masalah kekurangan nutrisi bukan semata kekurangan makanan, sehingga menghambat pertumbuhan perkembangan anak, tetapi juga karena perubahan paradigma yang lebih mendorong pola pertumbuhan dan status gizi anak sebagai salah satu indikator kesejahteraan. Kondisi ini didukung oleh maraknya media elektronik TV dan radio menayangkan iklan makanan kemasan yang menarik dan telah menyihir anak-anak menjadi aktif memilih makanan yang disukai mereka. Oleh karena itu bisa mempengaruhi diet mereka setiap hari.

Kebutuhan energi anak semakin besar. Hal ini dikarenakan anak sudah banyak melakukan aktivitas lainnya di luar sekolah. Mulai usia memasuki remaja kebutuhan gizi anak laki-laki dengan anak perempuan berbeda. Anak laki-laki lebih banyak melakukan aktivitas sehingga membutuhkan energi yang lebih banyak, sedangkan anak perempuan membutuhkan protein dan zat besi lebih banyak karena sudah memasuki tahap menstruasi. Oleh karena hal-hal tersebut di atas, maka dibutuhkan program pemenuhan kebutuhan dan hak kesehatan anak usia sekolah dasar terkait dengan pendidikan gizi dan kesehatan sangatlah penting. Hal ini bisa berdampak terhadap peningkatan kemampuan prestasi belajar di sekolah. Pendidikan nutrisi selama ini hanya sebatas pengetahuan tentang zat gizi makro (Karbohidrat, Protein, Lemak) serta fungsinya. Pengetahuan nutrisi lainnya seperti kandungan gizi suatu jenis makanan, porsi makanan yang harus dikonsumsi oleh tubuh, serta higienitas makanan dan pengaruh BTM bagi kesehatan masih kurang bahkan tidak dipelajari di sekolah. Selama ini anak mendapat pengetahuan tentang nutrisi diperoleh dari penyisipan pada mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan di sekolah. Itupun bila gurunya memiliki kreatifitas dan menganggap hal ini sangat penting, jika tidak maka pengetahuan anak-anak semakin minim. Pendidikan nutrisi ini tidak bisa berdiri sendiri begitu saja di sekolah, tetapi harus mendapatkan dukungan dari orang tua wali dan pemerintah (puskesmas, dinas kesehatan, dll). Pendidikan nutrisi bagi anak tidak hanya diajarkan di sekolah, tetapi perlu juga di rumah yang dapat diberikan melalui orang tua. Selain itu, pendidikan nutrisi bisa diterapkan juga di tingkat masyarakat melalui pertemuan dusun atau desa.

Pendidikan Nutrisi di Sekolah

Salah satu masalah mengenai gizi bagi anak-anak sekolah yang menonjol adalah seringnya jajan sembarangan di sekolah, sedangkan di rumah sering anak-anak tidak mau makan. Pada umumnya anak tidak sarapan, makan tidak teratur dan pada akhirnya tidak terpenuhi nilai kebutuhan gizinya, sehingga biasanya masalah-masalah yang timbul pada anak-anak seperti obesitas, anorexia nervosa, dan defisiensi zat besi pada anak perempuan sering kali muncul. Untuk mengurangi kebiasaan anak sekolah makan jajanan yang tidak sehat dan tidak aman, perlu dilakukan usaha promosi keamanan pangan baik kepada pihak sekolah (kepala sekolah, guru, murid), masyarakat (orang tua murid), serta pedagang. Terbangunnya kebersamaan dan kerjasama antara guru, orang tua murid, kepala sekolah dan anak-anak dalam membangun pentingnya pemahaman mengenai asupan gizi bagi anak-anak akan dapat menciptakan intensitas dan kualitas yang lebih baik dalam meningkatkan perkembangan pendidikan dan kesehatan anak. Peran orang tua dan pihak sekolah sangat penting dalam menggerakan pola asupan makanan yang tepat di lingkungan sekolah, karena disitulah peran tumbuh kembang generasi yang sehat cerdas dan berkualitas ditopang.

Salah satu bentuk solusi yang mungkin antara lain adalah koordinasi antara pihak sekolah, persatuan wali murid di bawah pengawasan Pusat Kesehatan Masyarakat setempat perlu ditingkatkan. Kolaborasi pihak-pihak tersebut bisa juga diwujudkan dengan menyajikan makanan ringan pada waktu istirahat sekolah atau makan siang yang bisa diatur porsi dan nilai gizinya bagi anak-anak. Hal ini dilakukan semata-mata untuk mencegah anak tidak jajan sembarangan. Dengan menyelenggarakan kegiatan penyediaan makanan tambahan tersebut diharapkan mendapat hal-hal positif, misalnya anak sudah ada jaminan makanan di sekolah sehingga orang tua tidak khawatir dengan makanan yang dimakan anaknya di sekolah. Selain itu, anak dikenalkan berbagai jenis bahan makanan yang mungkin tidak disukai anak ketika disajikan di rumah, tetapi akan menerima apabila disajikan di sekolah. Dengan demikian, anak dapat mengenal aneka bahan pangan yang mungkin belum dikenal sebelumnya. Bila upaya tersebut belum dapat terealisasi, maka alternartif lainnya adalah orang tua harus lebih aktif dapat menyiapkan bekal makanan bagi anak. Permasalahnya sekolah dan pihak-pihak tersebut memiliki banyak keterbatasan, berarti tidak setiap kali kalau bisa, anak makan makanan yang disiapkan oleh pihak sekolah. Hal ini disebabkan biaya amat terbatas dari pihak sekolah sehingga bila anak dibekali makanan dari rumah oleh orang tua maka problem ini bisa diatasi dengan sendirinya. Makanan yang dibawa anak dari rumah tentu tergantung pada kemampuan dan pengetahuan orangtua, yang terpenting harus diperhatikan adalah bahwa bekal tersebut dapat menutupi asupan unsur zat gizi yang kurang atau lebih bagus lagi bila memenuhi kebutuhan gizi anak-anak.

Pada umumnya anak memilih jajanan atau makanan yang disenanginya dan biasanya jajanan tersebut memiliki nilai gizi kurang, seringkali setiba di rumah mereka tidak ingin makan lagi. Anak juga lebih mudah terpengaruh lingkungan disekitarnya terutama melalui media elektonik (televisi atau radio) atau juga pengaruh teman-temannya. Anak-anak sudah dapat memilih dan menentukan makanan yang disukai atau tidak dan sayangnya seringkali anak memilih makanan yang salah, ditambah jika orang tua tidak memberi petunjuk apa-apa pada anaknya. Berdasarkan beberapa hal di atas, maka anak sekolah perlu diberi pendidikan nutrisi di sekolah secara spesifik baik berupa pengetahuan, praktek dan sikap mengenai makan dan jenis makanan yang sehat. Pendidikan nutrisi ini tidak terbatas pengetahun zat gizi mikro, akan lebih baik apabila anak bisa memperkirakan jumlah asupan makanan dan energi yang digunakan setiap harinya. Selain itu, anak bisa mulai waspada dan menyadari kandungan zat gizi atau zat-zat lainnya yang mereka konsumsi terutama BTM yang tidak aman pada makanan atau jajanan mereka. Pemberian pengetahuan dapat dilakukan guru melalui pengajaran di sekolah. Dibalik pemberian pengetahuan ini, dimaksudkan agar anak dapat menularkan kembali pengetahuan nutrisi mereka kepada lingkungannya. Pengetahuan dan praktek lebih dulu dilakukan sehingga membawa perubahan pada anak yaitu dalam sikapnya. Hal ini perlu dilakukan secara perlahan dan pasti sehingga anak tidak merasa ditekan atau terpaksa melakukannya. Hal lainnya yang bisa dilakukan adalah adanya kerjasama antara pemerintah dan pihak sekolah dengan menggiatkan kembali kegiatan UKS (Usaha Kesehatan Sekolah). UKS dapat dijadikan sarana dalam pembelajaran pendidikan nutrisi di sekolah. Pendidikan nutrisi dapat diberikan di kegiatan UKS, seperti anak membuat media poster atau gambar tentang makanan yang sehat bebas dari BTM sintetis. Salah satu pendekatannya bias dengan dibentuk team khusus seperti healthy food club. Team tersebut beranggotakan anak-anak yang didampingi guru, dan berdiri sendiri atau dimasukan dalam struktur UKS di sekolah. Kesemua alternatif ini tidak terlepas dukungan dari pihak sekolah dan yang penting juga dukungan dari orang tua murid.

Pendidikan Nutrisi di Rumah atau di Masyarakat

Kritikan yang signifikan dari guru atau orang dewasa bagi anak bisa mempengaruhi pilihan anak selama masa sekolah dan pengaruh ini bisa mengalahkan pengaruh yang dibawanya dari rumah. Semakin anak bertumbuh besar dan mempunyai uang saku untuk dibelanjakan, maka mereka akan mengkonsumsi lebih banyak makanan di luar rumah. Semakin banyak jumlah anak yang dibiarkan jajan tanpa pengawasan orang tua, maka mutu makanan yang mereka konsumsi kemungkinan besar tidak terkendali, terutama keseimbangan zat gizinya. Oleh karena itu, pendidikan nutrisi tidak hanya diberikan di sekolah tetapi diterapkan pula di rumah. Salah satu alternatifnya adalah dibuat peraturan bahwa seluruh keluarga paling tidak mesti makan bersama sekali dalam sehari. Hal lain seperti teladan orang tua dengan memperlihatkan makanan baru akan mendorong anak untuk menkonsumsi makanan yang beragam juga berpengaruh bagi anak. Hal ini bisa mempermudah untuk mengontrol jumlah natrium, gula dan lemak pada makanan yang dipersiapkan di rumah daripada yang dibeli diluar rumah. Karena konsumsi diet harian yang tidak seimbang dapat mempengaruhi persoalan kesehatan kronik seperti obesitas, sakit jantung, kanker, osteoporosis dan lainnya. Selain itu, perlu juga mengikut sertakan anak-anak dalam penyiapan makanan. Ini akan membantu anak menyadari apa yang terkandung dalam makanan mereka, dan cara yang baik untuk mengenal pengetahuan gizi sejak awal.

Pemenuhan kebutuhan gizi dalam keluarga erat hubungannya dengan gaya hidup keluarga. Untuk itu pendidikan nutrisi ditujukan bagi setiap anggota keluarga secara menyeluruh. Gaya hidup keluarga ini erat kaitannya dengan perilaku keluarga secara khusus, dan secara umum budaya masyarakat disekitarnya. Cara mengolah dan memasak bahan makanan, serta memilih bahan makanan yang baik untuk dimasak merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan oleh setiap anggota keluarga. Di tingkat masyarakat, pendidikan nutrisi dapat diberikan dalam pertemuan/perkumpulan atau organisasi kemasyarakatan. Lebih spesifik dengan adanya pemberdayaan masyarakat berupa dibentuknya tim kader nutrisi di masyarakat. Kader nutrisi ini perlu dibekali pengetahuan nutrisi yang memadai melalui penyegaran dan pelatihan. Dalam hal ini pemerintah terutama dinas kesehatan atau puskesmas setempat ikut memberi peranan dan dukungan dalam pemberian pengetahuan nutrisi pada kader nutrisi di masyarakat. Peran kader nutrisi ini diantaranya adalah menginformasikan pesan-pesan gizi, pelayanan gizi dan pemanfaatan lahan pekarangan yang mana seluruh kegiatan yang disampaikan dilaksanakan oleh masyarakat itu sendiri.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka pentingkan pendidikan nutrisi? Jawabannya adalah PENTING!. Pendidikan nutrisi ini tidak hanya diberikan di sekolah, tetapi dilengkapi dan diterapkan di rumah dan masyarakat. Program ini tidak akan lepas dari dukungan pemerintah (dinas kesehatan, puskesmas, dan instansi yang terkait). Tentunya kehilangan generasi emas karena masalah nutrisi akan sangat buruk bila terjadi, maka pendidikan nutrisi untuk menyelamatkan generasi emas kita perlu dimulai.

3 Tanggapan

  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at 2 Mei 2008)

    Strategi Pendidikan Milenium III
    (Tengkulak Ilmu: Rabunnya Intelektual Ilmiah)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MANUSIA adalah binatang yang menggunakan peralatan. Tanpa peralatan, ia bukan apa-apa. Dengan peralatan, ia adalah segala-galanya (Thomas Carlyle).

    DALAM momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2008, sangat tepat berbenah diri. Banyak kalangan menilai betapa rendahnya kualitas sumber daya manusia Indonesia dibanding bangsa lain. Ini ditandai dengan produktivitas kerja rendah sehingga ekonomi lemah, karena tidak efesien, efektif dan produktif dalam mengelola sumber daya alam yang meski begitu melimpah.

    Lalu, mengapa kualitas sumber daya manusia Indonesia rendah?

    KAPITAL manusia adalah kekayaan sebuah bangsa dan negara, sama halnya seperti pabrik, perumahan, mesin-mesin, dan modal fisik lainnya. Diakui dimensi teknologi, strategi, aliansi global dan inovasi merupakan komponen penting yang akan mempengaruhi keuggulan kompetitif pada masa depan. Namun demikian, komponen itu masih bergantung pada kembampuan manusia (Gary S. Becker).

    Dalam ilmu matematika ada acuan dasar sederhana penilaian apa pun, yaitu posisi dan perubahan. Jadi, jika bicara kemajuan pendidikan kualitas sumber daya manusia Indonesia adalah berkaitan di mana posisinya dan seberapa besar perubahannya dibanding bangsa lain di bidangnya.

    Berkaitan dengan perubahan, ada dua cara posisi untuk unggul yaitu bertahan dengan keunggulan lokal dengan fungsi terbatas atau menyerang dengan keunggulan global dengan fungsi luas. Misal, menjadi ahli orang hutan Kalimantan yang endemik, atau menjadi ahli kera seluruh dunia. Jelas, sangat sulit menjadi unggul satu keahlian untuk global diakui secara global, sedang unggul keahlian untuk lokal diakui secara global pun – seperti tentang orang hutan Kalimantan (apalagi tentang gorila), didahului orang (bangsa) lain. Ini terjadi disemua bidang ilmu. Mengapa?

    Indonesia (juga negara terkebelakang lain) memang negara yang lebih kemudian merdeka dan berkembang, sehingga kemajuan pendidikan pun belakangan. Umumnya, keunggulan (sekolah) pendidikan di Indonesia hanya mengandalkan keunggulan lisensi, bukan produk inovasi sendiri. Contoh, sekolah (dan universitas) yang dianggap unggul di Kalimantan bila pengajarnya berasal menimba ilmu di sekolah (dan universitas) unggul di pulau Jawa (atau luar negeri). Sedang di Jawa, pengajarnya berasal menimba ilmu di luar negeri. Jika demikian, pendidikan (ilmu pengetahuan dan teknologi) Indonesia atau di daerah tidak akan pernah lebih unggul di banding pusat atau luar negeri. (Ada beberapa sekolah atau universitas yang membanggakan pengajarnya lulusan universitas bergengsi atau menonjolkan studi pustaka di Jawa dan luar negeri. Artinya, ini sekadar tengkulak atau makelar (broker) ilmu dan teknologi). Dan memang, selalu, beban lebih berat bagi apa dan siapa pun yang terkebelakang karena harus melebihi kecepatan lepas (velocity of escape), kemampuan kemajuan yang unggul di depan untuk menang. Perlu kemauan keras, kerja keras dan strategi tepat mengingat banyak hal terbatas.

    WALAUPUN Anda berada pada jalan yang benar, maka akan tergilas jika Anda cuma duduk di sana (Will Roger).

    Lalu, mengapa otak orang lain unggul? Ada contoh menarik, Sabtu 30 Juli 2005 lalu, Michael Brown dari California Institute of Technology mengumumkan “Keluarkan pena. Bersiaplah menulis ulang buku teks!”. Astronom Amerika Serikat ini, mengklaim menemukan planet ke-10 dalam sistem tata surya yang diberi nama 2003-UB313, planet terjauh dari matahari, berdiameter 3.000 kilometer atau satu setengah kali dari Pluto. Planet ini pertama kali terlihat lewat teleskop Samuel Oschin di Observatorium Polmar dan teleskop 8m Gemini di Mauna Kea pada 21 Oktober 2003, kemudian tak nampak hingga 8 Januari 2005, 15 bulan kemudian.

    Sebuah penemuan kemajuan ilmu pengetahuan luar biasa, yang sebenarnya biasa saja dan mungkin terjadi di Indonesia andai ilmuwannya memiliki alat teleskop serupa. Tanpa teleskop itu, ketika memandang langit mata kita rabun, sehingga yang terlihat hanya langit malam dengan kerlip bintang semata. Sejarah mencatat, ilmuwan penemu besar sering ada hubungan dengan kemampuannya merancang atau mencipta alat penelitian sendiri. Tycho Brahe membuat sekstan (busur derajat) pengamatan benda langit, Johannes Kepler dengan bola langit sebagai peta astronomi, Isaac Newton membuat teleskop refleksi pertama yang menjadi acuan teleskop sekarang, atau Robert Hooke merancang mikroskop sendiri. Dan, alat teknologi (hardware) pengamatan berjasa mendapatkan ilmu pengetahuan ini disebut radas, pasangan alat penelitian (software) pengetahuan sistematis disebut teori.

    ILMUWAN kuno kadang menekankan pentingnya seorang ilmuwan membuat alat penelitian sendiri. Merancang dan membuat sesuatu alat adalah sebuah cabang keahlian ilmiah (Peter B. Medawar).

    Lalu, sampai di manakah perkembangan ilmu pengetahuan (dan teknologi) di negara lain? Untuk (ilmu) pengetahuan sosial, di milenium ketiga kesejajaran dan keterpaduannya dengan ilmu pengetahuan alam, hangat di berbagai belahan dunia. Di ujung tahun 2007 lalu, Gerhard Ertl, pemenang Nobel Kimia tahun itu, kembali mengemukakan bahwa ilmuwan harus menerobos batasan disiplin ilmu untuk menemukan pemecahan beberapa pertanyaan tantangan besar belum terjawab bagi ilmu pengetahuan yaitu ilmu pengetahuan menyatu seiring waktu. Banyak ilmuwan peserta forum bergengsi itu menjelaskan tugas penting ke depan yang harus diselesaikan berkenaan masalah batas, batasan atau titik temu pada dua atau lebih disiplin ilmu. Kemudian sejalan itu, tanggal 28 – 30 Maret 2008 lalu, di Universitas Warwick, Warwick, Inggris, berlangsung British Sociological Association (BSA) Annual Conference 2008, dengan tema Social Worlds, Natural Worlds, mengangkat pula debat perseteruan terkini yaitu batas, hubungan dan paduan (ilmu) pengetahuan sosial dan ilmu pengetahuan alam dalam pengembangan teori (ilmu) sosial dan penelitian empiris, mencoba menjawab pertanyaan kompleks yang selalu mengemuka di abad ke 21 dalam memahami umat manusia. Berikutnya, tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008, di Universitas Melbourne dengan tema Re-imagining Sociology.

    Ini peluang momentum besar (yang hanya satu kali seumur dunia) bagi siapa pun, baik universitas atau bangsa Indonesia untuk berlomba memecahkan masalah membuktikan kemajuan, keunggulan dan kehormatan sumber daya manusianya di milenium ketiga ini. (Dari pengalaman, pandangan rendah bangsa lain terhadap Indonesia (dan pribadi), tergantung kualitas kita. Kenyataannya, ilmuwan besar di universitas besar di benua Eropa, Amerika, Afrika, Asia dan Australia pun, dengan rendah hati mau belajar (paradigma Total Qinimain Zain: The (R)Evolution of Social Science: The New Paradigm Scientific System of Science dengan saya) selama apa yang kita miliki lebih unggul dari mereka.

    SUMBER daya manusia harus didefinisikan bukan dengan apa yang sumber daya manusia lakukan, tetapi dengan apa yang sumber daya manusia hasilkan (David Ulrich).

    Akhirnya, di manakah tempat pendidikan terbaik belajar untuk unggul secara lokal dan global di banding bangsa lain? Di University of Reality di kehidupan sekitar! Dengan syarat (mencipta dan) memiliki alat teknologi (hardware) atau alat teori (software) hebat sendiri. Jika tidak, semua mata intelektual ilmiah rabun, karena belajar dan memahami kehidupan semesta dengan otak telanjang adalah sulit bahkan mustahil, sama halnya mencoba mengamati bintang di langit dan bakteri di tanah dengan mata telanjang tanpa teleskop dan mikroskop. Sekarang rebut peluang (terutama untuk akademisi), bangsa Indonesia dan dunia krisis kini membutuhkan Galileo Galilei, Francis Bacon, dan Rene Descartes muda. Jika tidak, akan hanya menjadi tengkulak ilmu, dan harapan memiliki (serta menjadi) sumberdaya manusia berkualitas lebih unggul daripada bangsa lain hanyalah mimpi. Selamanya.

    BODOH betapa pun seseorang akan mampu memandang kritis terhadap apa saja, asal memiliki peralatan sesuai tahapan pemahaman itu (Paulo Freire)

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru, Kalsel, email: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com).

  2. thx, untk infonya

  3. Makalahnya bagus aku Copy yah buat tugas

    By Tarzan Sadhrindo

Tinggalkan Balasan